Akhlak

Published on November 15th, 2015 | by PPM Miftahul Khoir

0

Cinta tanpa Benci?

Sebagian dari kita banyak yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi jauh dari mengikuti sunah Rasul, menikmati ibadah dan menjauhi perbuatan jahat. Jika seseorang mencintai sesuatu, maka ia suka melakukan hal yang membuat sesuatu tersebut senang atau gembira. Oleh karena itu nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang mencintai suatu kaum maka ia termasuk kepada kaum tersebut.” Hal ini berarti bahwa mencintai itu tak sekedar ucapan, melainkan tindakan, atau yang biasa kita sebut bukti dari rasa cinta.

Jika kita mencintai Allah maka sudah seharusnya kita melaksanakan segala bentuk kegiatan yang Ia sukai, seperti salat, zakat, puasa, bersedekah, dan sebagainya. Namun jika kita melakukan hal yang tidak disukai-Nya, maka kita termasuk orang tidak mencintai Allah SWT. Akan tetapi layaknya cinta kepada sesama, kita tak dapat melakukan semua hal Allah SWT sukai seratus persen. Kita bukanlah malaikat yang selalu benar, namun kita bukan juga setan yang selalu salah, kita merupakan manusia yang diciptakan untuk beribadah sebagai tanda cinta kepada Allah SWT. Manusia ditugaskan untuk berusaha, karena dalam diri manusia terdapat dua macam sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk. Oleh karena itu, untuk menunjukkan rasa cinta terhadap Allah SWT, kita harus berusaha menyelesaikan ujian-Nya dengan sebaik-baiknya.

Di dunia ini ada perbuatan baik dan perbuatan buruk. Merampas merupakan salah satu perbuatan buruk, pada saat kita mencintai perbuatan tersebut maka pada saat yang bersamaan kita pun membenci memberi yang termasuk perbuatan baik. Itu artinya kita tak dapat mencintai kedua hal yang berlawanan secara bersamaan.

Ketika kita mencintai Allah SWT kita pun akan senantiasa mengambil teman yang mencintai Allah SWT pula. Tidak mungkin jika kita mencintai seseorang lalu kita mengambil teman yang merupakan musuhnya, bukanlah kebaikan yang kita terima dari orang yang kita cintai melainkan kekecewaan. Hati yang dipenuhi rasa cinta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya mengharuskan kita berteman dengan sekutu-Nya dan menunjukkan rasa benci terhadap musuh-Nya. Allah SWT bersabda pada surat al-Mujadila ayat 22 yang artinya, “Kamu (Muhammad) tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya…”

Selain itu Allah SWT pun bersabda pada surat al-Maidah ayat 81 yang artinya, ”Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Cinta merupakan tanda kita beriman kepada Allah SWT. Sebagai seorang yang beriman tentu kita tidak ingin mengecewakan-Nya dikarenakan perbuatan kita, baik itu melakukan hal yang tidak disukai-Nya maupun bersekutu dengan musuh-Nya. Wallahu’alam.

Tags: , ,


About the Author

PPM Miftahul Khoir adalah pesantren mahasiswa aswaja syafiiyah dengan pembelajaran menggunakan kitab kuning klasik. Lokasi di daerah Dago, Bandung berdeketan dengan kampus ITB, UNPAD DU, UPI, POLMAN, UNIKOM.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top ↑