Riyadloh ikhlas, husnudzon

Published on Februari 19th, 2016 | by PPM Miftahul Khoir

0

Hubungan Antara Ummat Islam Yang Akan Mendapatkan Rohmat Dan Maghfiroh Alloh

Oleh : KH. Asep A. Maoshul Affandy (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda)

Inti pembahasan: Supaya kita mendapatkan Rohmat dan Maghfiroh Alloh ketika berhubungan dengan saudara seagama caranya:

  1. Harus saling akur atau islah.
  2. Jangan saling caci-maki.
  3. Jangan memaki diri sendiri.
  4. Jangan memanggil dengan bahasa yang tidak terpuji.
  5. Jauhkan diri dari prasangka buruk.
  6. Jangan mencari kesalahan orang lain.
  7. Jangan membicarakan kejelekan orang lain.

Melihat kondisi zaman sekarang yang dilatarbelakangi oleh rupa-rupa kepentingan (pribadi & masyarakat umum) juga keprihatinan sosial, perilaku pembicaran seseorang sudah tidak diatur. Tidak sedikit yang belok dari aturan Alloh sehingga sesama ummat Islam saling mencaci-maki.

Kita selaku ummat yang beriman, tentunya ingin mendapatkan Rohmat dan Maghfiroh Alloh. Bagaimana caranya? Perlu disadari bahwa ummat itu terbagi dua :

  1. Ada yang beriman
  2. Ada yang tidak beriman (kafir)

Interaksi ummat Islam dengan kafir, Islam dengan Islam ada aturan yang harus diperhatikan, sebagaimana firman Alloh surat Al-Hujurot ayat 10:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat Rahmat.

Oleh karena itu untuk mempertahankan Ukhuwah Islamiyyah maka dengan bertaqwa. Koridor kehidupan sesama ummat Islam harus memakai aturan Islam didasari oleh taqwa, insya’ Alloh kita akan mendapatkan Rohmat dan Maghfiroh Alloh. Caranya:

1. Harus saling akur atau islah.
Pada surat Al-Hujurot ayat 10 di atas yang dimaksud dengan saling akur bukan seperti faham komunis (sama rata – sama rasa) tetapi saling memberi peluang kepada orang lain. Contohnya komunikasi si A dan si B tidak aman (mereka harus saling memahami dalam perkara yang berhubungan dengan taqwa kepada Alloh) maka si C harus segera mendamaikan.

2. Jangan saling caci-maki.
Seperti mencaci seseorang dengan menyebut “si Jebleh, si Pendek” meskipun buktinya begitu. Sebab saling caci bisa jadi yang dicaci lebih baik pribadinya daripada yang mencaci maka alangkah baiknya apabila saling menutupi kekurangan.

3. Jangan memaki diri sendiri.
Larangan memaki kepada orang lain, begitu pun kepada diri sendiri. Maka jangan memaki orang lain dan diri sendiri dengan ucapan atau tingkah laku seperti seorang miskin mengajak orang berada untuk mampir ke rumahnya dengan bahasa “ayo kita mampir dulu ke gubuk saya” padahal rumah tersebut lebih bagus dari apa yang dikatakannya. sebab seolah si miskin tidak menerima akan nugraha yang telah diberikan Alloh kepadanya (ini temasuk kufur nikmat).

Jadi manusia jangan minder, jangan melakukan pekerjaan yang membuat kita hina diri! Contoh lagi; jarang mandi, jarang bersih-bersih di rumah, jarang menghafal, apalagi tidak pernah ngaji ilmu agama, itu pun akan membuat kita hina karena dengan ilmu kita akan menjadi seorang mulia.

4. Jangan memanggil dengan bahasa yang tidak terpuji.
Diantara perilaku yang tidak boleh dilakukan oleh sesama ummat Islam yaitu memanggil dengan kata-kata jelek sebab akan menyakiti perasaan yang dipanggil, bila sudah sakit hatinya maka bahaya yang ditimbulkannya akan lebih besar. Sering terjadi banyak hilang nyawa karena masalah lidah. Memanggil orang lain “si Beke” karena badannya pendek padahal namanya Syamsuddin, nyebut “si Putih” padahal kulitnya hitam, namanya Ahmad Munawwar.

5. Jauhkan diri dari prasangka buruk.
Seperti mengajak tersenyum padahal maksudnya mentertawakan.

6. Jangan mencari kesalahan orang lain.
Karena tidak suka kepada seseorang tanpa alasan, dia berani memfitnah dan mengajukan ke pengadilan agar yang dibencinya masuk penjara. Kita jangan berani mencari kesalahan orang lain, tapi bila kita menemukan kesalahan mereka maka kita harus segera menegurnya bahwa kelakuan tersebut adalah salah.

7. Jangan membicarakan kejelekan orang lain.
Zaman sekarang namanya membicarakan kejelekan orang lain (gosip) banyak diacarakan disetiap televisi, hukumnya antara yang memberitakan dan yang menyimaknya (menonton dan mendengarnya) sama dosanya bahkan termasuk dosa besar. Maka kita harus hati-hati dan memilah mana yang manfa’at dan mana yang madharat.

Tentunya bila yang tujuh rupa ada dalam diri seorang mukmin, bagaimana akan datang Rohmat dan Maghfiroh Alloh? Yang ada malah mendapatkan celaka di dunia dan nanti di akhirat. Marilah dari sekarang kita bertaubat kepada Alloh dan saling meminta maaf di antara kita karena sesungguhnya mukminin adalah bersaudara.

Tags: ,


About the Author

PPM Miftahul Khoir adalah pesantren mahasiswa aswaja syafiiyah dengan pembelajaran menggunakan kitab kuning klasik. Lokasi di daerah Dago, Bandung berdeketan dengan kampus ITB, UNPAD DU, UPI, POLMAN, UNIKOM.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top ↑