Kisah nabi muhammad saw

Published on Agustus 25th, 2015 | by PPM Miftahul Khoir

0

Paksaan yang Positif, Akhirnya Merindu

Ini adalah sepenggal kisah yang pernah disampaikan oleh Guru saya, Buya yahya. Semoga Allah melimpahkan karunianya kepada beliau. Mudah-mudahan kita termotivasi untuk terus menjadikan Rasulullah saw sebagai idola yang tiada tara bandingannya.

Diceritakan bahwa ada seorang yang ‘Alim dan Shaleh disuatu Negeri. Beliau bernama As-Syaikh Ahmad Al-Badawi. Beliau adalah seorang pembelajar yang sangat rajin dalam menghafal. Pintar dalam bidang ilmu-ilmu seperti hadist, tafsir, Al-Qur’an dan ilmu-ilmu lainnya.

Beliau adalah orang yang semangat dalam menuntut ilmu. Waktunya selalu ia gunakan untuk belajar, muraja’ah dan berdiskusi keagamaan. Beliau sangat terkenal dengan kecerdasannya.

Setelah As-Syaikh Ahmad Al-Badawi lulus dari proses belajarnya hingga ia mengetahui betul mengenai sunnah-sunnah Nabi dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Nabi, ia pun kembali ke daerah asalnya.

Suatu hari As-Syaikh Ahmad Al-Badawi mendatangi ibunya. Sebab, ia ingin menceritakan keberhasilannya dalam belajar. As-Syaikh Ahmad Al-Badawi adalah seorang yang mengerti betul cara ta’dzim kepada kedua orang tua. Ia sengaja menceritakan keberhasilannya semata-mata agar ibunya senang melihat prestasinya.

“Ibu, ibu,” ujar Ahmad Al-Badawi. “Sekarang aku sudah jadi orang, Bu.” Lanjut Ahmad Al-Badawi dengan gembira. Saking gembiranya, Ahmad Al-Badawi mengungkapkan kegembiraannya kepada Ibunya dengan wajah yang cerah dan berbinar di kedua ujung matanya.

“Jadi orang bagaimana, Nak?” tanya sang Ibu terheran dan bingung.

“Iya Bu, sebab, sekarang aku sudah menjadi ahli tafsir, ahli hadist dan mengerti ilmu tentang sunnah-sunnah Nabi, Bu.” Jawab Ahmad Al-Badawi gembira.

Mendengar jawaban Ahmad Al-Badawi sang Ibu tersenyum. Ia akan segera mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan menyesakkan dada anaknya.

“Ohhh, gitu ya Nak, kamu belum jadi orang, Nak.” Jawab sang Ibu dingin.

“Lho, kenapa Bu?” Tanya Ahmad Al-Badawi penasaran. Ia kaget mendengar jawaban Ibunya yang tidak sesuai dengan harapannya.

“Nak, kamu belum jadi orang sebelum ilmumu engkau amalkan dan engkau hadirkan Rasulullah pada setiap pengamalan ilmu yang sudah engkau pelajari. Baru kamu bisa jadi orang, Nak.”

Terdiam Ahmad Al-Badawi. Ternyata ibunya adalah motivator ulung.

Semenjak itu, Ahmad Al-Badawi selalu giat mengamalkan ilmu yang ia pelajari. Tidaklah ia mengamalkan suatu ilmu kecuali ia hadirkan Rasulullah dalam setiap pengalaman ilmunya. Hingga tidak ada pun satu sunnah Nabi kecuali ia lakukan dan ia hadirkan Rasulullah di hatinya. Ketika ia mau ke masjid, ia dahulukan kaki kanan sebab Nabi telah mencontohkannya demikian. Ia masuk ke dalam Masjid dengan membayangkan dirinya sedang bersama Rasulullah. Lalu ketika ia makan, ia ingat bahwasanya Rasulullah memakai tangan kanan. Maka, tiadalah ia makan, kecuali ia ingat sunnah Rasulullah saat makan. Begitu pula saat hendak tidur, bangun tidur, hendak belajar, hendak berbakti kepada kedua orang tua, hendak mengajarkan ilmu yang ia miliki, semuanya ia lakukan dengan membayangkan Rasulullah hadir di dekatnya.

Setelah keberhasilannya itu. Syaikh Ahmad Al-Badawi pergi menghadap Ibunya. Dengan sangat gembira, ia memberitahukan keberhasilannya setelah sekian lama ia berlatih.

“Ibu, Ibu, sekarang aku sudah bisa kan jadi orang, Bu.” Ujar Ahmad Al-Badawi.

“Jadi orang bagaimana, Nak?” Tanya sang Ibu terheran.

“Dulu kan Ibu pernah bilang, jika aku berhasil mengerjakan sunnah Nabi dengan menghadirkan Nabi di hati dan di dekat kita, itu baru bisa jadi orang. Dan setelah berlatih, aku sudah bisa melakukannya, Bu.” Ucap Ahmad Al-Badawi.

Sang Ibu terdiam lama. Timbul untuk kedua kalinya sifat motivator ulungnya sang Ibu.

“Hemm, Nak, kamu menghadirkan Nabi dihati saja atau sudah pernah melihat langsung, Nak?” Tanya Ibu.

“Baru di hati saja, Bu,” jawab Ahmad Al-Badawi. “Jadi harus bertemu Nabi secara langsung dulu baru bisa jadi orang ya, Bu.” Lanjutnya.

“Nak, kamu adalah orang besar Nak, kamu belum bisa jadi orang sebelum kamu bisa melihat secara langsung Rasulullah, Nak.” Tegas sang Ibu.

Mendengar jawaban dan pendapat sang Ibu, Ahmad Al-Badawi terdiam. Merenung sesaat. Akhirnya ia memutuskan untuk lebih giat lagi sampai ia bisa bertemu Rasulullah secara langsung.

Semenjak itu Ahmad Al-Badawi lebih giat lagi menjalankan sunnah Nabi. Tidak pernah ia lewatkan satu sunnah Nabi pun kecuali ia malakukannya. Ahmad Al-Badawi saat itu lebih berlatih menjauhkan dari ma’siat. Meninggalkan perkara yang syubhat, apalagi yang haram. Ia juga memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah setiap waku dan sehabis shalat. Ketika hendak tidur, ia mengambil air wudhu dan bersuci, setelah itu ia melakukan sunnah Nabi ketika hendak tidur. Mulai dari membaca subhanallah tiga puluh tiga kali, Alhamdulillah tiga puluh tiga kali. Allahu Akbar tiga puluh tiga kali. Lalu memperbanyak bacaan istigfarnya. Setelah itu ia rebahkan badannya ke arah kanan dan menghadap kiblat. Tangan kanannya ia gunakan sebagai alas kepala dan tangan kirinya ia gunakan untuk menjaga anggota tubuh yang lain. Tidak lupa juga ia memohon agar bisa bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Ia juga mengurangi jam tidurnya untuk beribadah di waktu malam.

Malam berganti malam. Siang berganti siang selalu ia gunakan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan selalu menambah kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw. Hingga pada suatu malam, keajaiban dari Allah datang. Ahmad Al-Badawi bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Paginya, ia sangat bahagia dan menceritakan kepada Ibunya saat itu juga.

“Ibu, sekarang aku sudah jadi orang?” Ujar Ahmad Al-Badawi gembira.

“Jadi orang bagaimana, Nak?” Tanya sang Ibu terheran lagi.

“Dulu, ibukan pernah bilang, kalau sudah bertemu dengan Nabi baru jadi orang. Semalam, aku bermimpi berjumpa dengan Nabi, Bu.” Jawab Ahmad Al-Badawi.

Sang Ibu kembali terdiam seperti biasanya. Ahmad Al-Badawi menunggu jawaban sang Ibu menjawab pertanyaannya.

“Nak, kamu belum bisa jadi orang, Nak.” Ujar sang Ibu.

“Lho kenapa Bu?” Potong Ahmad Al-Badawi.

“Nak, dimana kamu melihat Rasulullah, Nak? Di alam nyata atau di dalam mimpi?”

“Di dalam mimpi Bu.”

“Berapa kali kamu bermimpi bertemu Rasulullah Nak?”

“Satu kali Bu.”

“Nak, kamu belum jadi orang sebelum kamu setiap detiknya hatimu tersambung dengan Rasulullah. Dan setiap detik juga kamu mampu menghadirkan Rasulullah di hati dan di depan matamu. Nak, kalau hanya bermimpi berjumpa dengan Rasulullah, orang di kampung sana juga bisa, Nak,” ujar sang Ibu sembari mengisyaratkan kampong sebelah yang memang pernah ada yang bermimpi berjumpa dengan Rasulullah di dalam mimpinya. “Logisnya begini Nak, kamu kan sudah melihat dalam mimpimu bagaimana rupa Rasulullah, sekarang, amalkan semua sunnah Nabi dengan menghadirkan Rasulullah di hadapanmu, Nak.” Lanjut sang Ibu.

“Begitu ya Bu.”

“Iya Nak.”

Lagi-lagi Ahmad Al-Badawi di hadapkan dengan posisi sulit yang harus ia hadapi. Apakah ia bisa terus berjumpa dengan Rasulullah setiap saat? Apakah mungkin ia bisa menjadi orang yang sesungguhnya?

Sejak saat itu Ahmad Al-Badawi giat berlatih dengan mengamalkan semua ilmu-ilmunya. Hatinya terus bertambah meningkat mencintai Nabi Muhammad. Ia berlatih dengan giat dan penuh kesabaran. Semua sunnah Nabi yang ia kerjakan tidak ada yang tertinggal, kecuali ia membayangkan Rasulullah ada dan bersama dirinya di alam yang nyata.

Hingga pada suatu saat, Allah telah membukakan hijab antara dirinya dengan Rasulullah Saw. Ia berhasil melewati rintangan yang amat berat. Tidak ada satu sunnah pun kecuali ia hadirkan Rasulullah di hatinya dan di alam nyata. Ia sudah merasa dekat sekali dengan Rasulullah. Kecintaannya kepada Rasulullah kian hari kian meningkat.

Setelah berhasil, Ahmad Al-Badawi melaporkan kepada Ibunya sebab keberhasilannya. Sang Ibu tersenyum,

“Sekarang, baru kamu jadi orang, Nak.” Ucap sang Ibu sembari mencium kening anak yang ia cintai itu.

Tidak terbayang bagaimana kebahagiaan As-Syaikh Ahmad Al-Badawi saat itu. Ia berhasil membuat Ibunya bangga atas dirinya. Tidak hanya itu, para malaikat ikut berbahagia dengannya. Semua alam mensenandungkan kebahagiaan kepada hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Cinta diatas cinta. Cinta yang membuat siapa saja berbahagia sebab cinta yang dimilikinya. Sebab, tiada lah Syaikh Ahmad Al-Badawi mencintainya dirinya lebih dari pada cintanya kepada Allah dan Rasulullah Saw.

“Ya Allah, pertemukanlah kami untuk dapat berjumpa dengan Nabi-Mu yang agung dan mulia. Shalawatus Salam ‘Ala Rosululillah.”

Subhanallah, dari cerita ini saja kita bisa mendapat pelajaran bahwa hakikat merindu adalah ‘berharap yang dirindu hadir dalam hidupnya’. Saudaraku, kisah diatas adalah kisah nyata lho. Syaikh Ahmad Al-Badawi itu adalah salah satu ‘ulama yang sangat shaleh, wara’ dan dalam akan ilmunya.

Demikianlah, Saudaraku. Tak ada salah jika kita pun berharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw. Minimal kita membayangkan Rasulullah saw hadir di hadapan kita. Terakhir, apa yang kita lakukan hari ini, yuk kita bayangkan Rasulullah hadir di hadapan kita. Ya, biar rasa cinta kita kepada Rosul-Nya lebih besar lagi.

***


About the Author

PPM Miftahul Khoir adalah pesantren mahasiswa aswaja syafiiyah dengan pembelajaran menggunakan kitab kuning klasik. Lokasi di daerah Dago, Bandung berdeketan dengan kampus ITB, UNPAD DU, UPI, POLMAN, UNIKOM.



Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top ↑