Akhlak ppm miftahul khoir bandung

Published on Agustus 12th, 2015 | by PPM Miftahul Khoir

Urgensi Zikir

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali-Imran [3]:(191)

Kita harus selalu berusaha agar siang dan malam tidak pernah kosong dari aktivitas zikir kepada Allah. Menurut ulama Suluk, batas maksimal lupa kepada Allah itu adalah 24 jam. Apabila lupa lebih dari 24 jam, kita akan mengalami kesulitan untuk mengingat kembali kepada Allah.

Waktu, tempat, dan perilaku yang sedang kita jalani harus senantiasa digunakan sebagai sarana untuk ingat kepada Allah, Zat yang Maha Agung. Dalam sehari semalam, jika mengerjakan yang wajib saja, kita shalat 17 rakaat. Pada saat itulah kita telah ruku` sebanyak 17 kali dan sujud kepada Allah sebanyak 34 kali. Dengan demikian, dalam sehari semalam, kita melakukan sujud, ruku`, dan menundukan diri di hadapan Allah sebanyak 51 kali. Karenanya, mustahil jika kita tidak menjadikan shalat sebagai kesempatan untuk ingat kepada Allah. Apabila shalat tidak kita gunakan untuk zikir kepada-Nya, kapan kita ingat kepada Allah? Jadi, kita harus benar-benar menggunakan shalat sebagai peluang untuk ingat kepada Allah Swt.

Akan tetapi, setan tidak akan tinggal diam. Setan akan terus menggoda manusia yang sedang shalat, sehingga banyak pekerjaan ruku` dan sujud, kita tidak dikatakan ruku` dan sujud. Seorang mukmin tidak akan bahagia karena shalatnya, tetapi ia akan mendapatkan kebahagiaan dari kekhusyukan shalatnya, sebagaimana firman Allah Swt., Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. [Yaitu] orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS Al-Mu’minun [23]:1-2).

Orang yang telah menemukan kekhusyukan dalam shalatnya, niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia akan meraih kebahagiaan jasmani dan ruhani. Sebaliknya, orang yang tidak khusyuk dalam shalatnya, ia tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Ia shalat tiada lain hanya melaksanakan kewajiban. Ia hanya akan mendapatkan ancaman dari Allah, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. [Yaitu] orang-orang yang lalai dari shalatnya (QS Al-Ma’un [107]:4-5).

Jadi, mulai sekarang kita harus mengusahakan kekhusyukan agar shalat kita diterima Allah Swt. Ada beberapa syarat yang harus kita penuhi agar shalat kita diterima, yaitu:

  • Bersikap tuma’ninah dalam melaksanakan shalat dan tidak terburu-buru.
  • Pakaian, badan, dan tempat shalat harus suci dan bersih dari kotoran (najis). Lebih baik lagi apabila memakai minyak wangi.
  • Tidak boleh memakan makanan yang diperoleh dengan cara haram.
  • Ada persiapan (isti’idad). Kurang lebih 10 menit, sebelum melaksanakan shalat, kita istirahatkan badan kita dari berbagai pekerjaan dan kosongkan hati dari kepentingan dunia. Badan yang lelah dan hati yang sibuk dengan urusan dunia akan membawa kepada ketidakkhusyukan.
  • Mambaguskan dan menyempurnakan wudhu.
  • Perut tidak boleh terlalu lapar atau kenyang.
  • Shalat harus khusyuk. Kita harus berusaha untuk meraih kekhusyukan. minimal, seperti khusyuknya para Mubtadi’in, yaitu ingat bahwa kita sedang shalat dan menghadap Allah Swt.

Apabila dalam 24 jam, kita melakukan ruku` sebanyak 17 kali dan sujud 34 kali, namun tetap tidak ingat kepada Allah, kita harus mengevaluasi diri. Kita tidak boleh tidur sebelum kita mengganti ketidakkhusyukan shalat tersebut.

Ahli kebatinan mengartikan shalat sebagai aktifitas mengingat Allah saja, dengan alasan pentingnya ingat kepada Allah sewaktu melaksanakan Shalat. Akan tetapi, pandangan itu adalah salah dan keliru.

Apakah zikir (ingat) itu shalat saja atau shalat harus dibarengi zikir? Tentu, zikir bukan hanya shalat. Lebih dari itu, dalam kondisi dan situasi apa pun, kita harus selalu berzikir kepada Allah, terutama dalam shalat, karena shalat adalah aktivitas mengahdapkan diri kepada Allah. Ketika badan kita menghadap kepada-Nya, hatipun harus kita hadapkan kepada-Nya.

Maksud zikir pada ayat tadi, bukan berarti zikir itu harus dilakukan sambil berdiri, duduk, atau berbaring di satu tempat, tetapi ketika sedang berdiri, berjalan, bekerja, berdagang, bertani, mau tidur, dan melakukan aktivitas lainnya harus berada dalam kerangka tuntunan Allah. Begitu juga ketika kita sedang tidak beraktivitas (istirahat), maka harus tetap berada pada prinsip Allah.

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sunguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap (QS Al-Insyirah [93]:7-8)

Apabila seorang mukmin lalai, lupa dan tidak ingat lagi kepada Allah, niscaya hatinya akan semakin mengeras. Jika hati sudah mengeras, ia akan semakin jauh dari Allah. Apabila sudah jauh dari Allah, ia akan disibukkan dengan pekerjaan yang membuatnya lalai. Akhirnya, ia akan mudah digoda, dirangkul, dan disesatkan pada perbuatan salah. []

Dikutip dari buku : La Tahzan (Innallaha Ma`ana) – KH. Choer Affandi hal 99-103

Tags: ,


About the Author

PPM Miftahul Khoir adalah pesantren mahasiswa aswaja syafiiyah dengan pembelajaran menggunakan kitab kuning klasik. Lokasi di daerah Dago, Bandung berdeketan dengan kampus ITB, UNPAD DU, UPI, POLMAN, UNIKOM.



Back to Top ↑