Aqidah

Published on Desember 4th, 2013 | by PPM Miftahul Khoir

0

Uwa Ajengan – Lahirnya Kalimat Thoyyibbah

kalimat thoyibah uwa ajengan
Lahirnya kalimat Thoyyibbah dari beberapa guru Uwa Ajengan

  1. KH. Raden Didi Abdul Majid, Pesantren Kalangsari, Cijulang Ciamis. Padahal Uwa Ajengan hanya ahli mingguan/ Riyadloh saja, dan beliau dipercaya sebagai asisten.
  2. Syah Jalal Sayuthi, Gerenggem Kebumen, Jawa Tengah. Beliau dalam metode pengajarannya memakai jalan suluk bidayah. Dan status Uwa Ajengan pada saat itu kiyai muda dan telah mukim, Uwa Ajengan langsung dilatih Riyadloh langsung setelah turun dari kereta berjalan kaki menuju rumah beliau dengan jarak kurang lebih 3km. bahkan bukan hanya seperti kebiasaan setiap santri, bias langsung ke rumah kiyai sampai di rumahnya pada pukul 23.00 uwa ajengan langsung di bawa oleh kiyai ke makam, sesampainya di makam uwa langsung disuruh masuk ke dalam kuburan yang sangat gelap gulita dan di tinggal sendirian tetapi uwa ajengan tidak merasa gelisah di karenakan untuk tafwidhnya terahadap murabi kemudian pada pukul 01.00 kiyaia datang dan mengelilingi  di atas kuburan melatih uwa ajengan seraya membacakan syair-syair sunda. Terus menerus dibacaakan sehingga uwa ajengan mengerti isi syair tersebut, akhirnya terbuka ta’biran bahwa alam itu maju, waktu yang telah pergi, dulu kecil sekarang dewasa, setelah diresapi dan dijiwai oleh uwa ajengan baru mengerti itu adalah tapak damel Alloh. Uwa ajengan mengerti setiap waktu yang di lalui akan di hisab dan di pertanggungjawabkan di hadapan Alloh. Setelah itu murabi melakukan latihan riyadohnya sambil membaca lagi syair sunda beberapa kali pila murabi membacakan syiiran tersebut, terus menerus uwa ajengan menghayati makna dan akhirnya terbuka kembali ta’birannya, bahwa supaya dagang ingin mendapatkan untung tapi tujuannya adalah megharap ridlo Alloh, uwa ajengan pun mengerti syiiran tersebut adalah ijazah kalimah thoyibah (…..). Jadi dari Syah Jalal Suyuthi ada dua kalimah thoyibah
  3. KH. Sekarmaji, beliau mendidik uwa ajengan selama kurang lebih 100 hari, dilatih riyadoh dan hanya di perbolehkan memakai pakaian serba putih dari mulai baju sampai celana pun harus putih. Di sanalah paling dahsyat uwa ajengan di bimbing kalimah thoyibah. Dan ditambah dua kalimah thoyibah (…..). Sehingga dari semua murabi beliau tadi lahirnya empat kalimah thoyibah

Dikutip dari buku Uwa Ajengan, KH. Abdul Fattah, 2013

Tags: , ,


About the Author

PPM Miftahul Khoir adalah pesantren mahasiswa aswaja syafiiyah dengan pembelajaran menggunakan kitab kuning klasik. Lokasi di daerah Dago, Bandung berdeketan dengan kampus ITB, UNPAD DU, UPI, POLMAN, UNIKOM.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top ↑